Quote

"What is most thought-provoking in these thought-provoking times, is that we are still not thinking."

- Martin Heidegger
Text

Seorang teman mempertanyakan keyakinanku, dan hari ini secara lantang, tanpa takut, tanpa curiga dan tanpa ekspektasi apa-apa aku dengan jujur menjawab. Aku bukan agnostik, aku bukan atheis, aku bukan tak percaya Dia yang berhuruf besar, bukan. Aku dengan penuh mempercayai Dia yang berhuruf besar. Meyakini kemampuan-Nya serta mengagumi ke-Maha-an-Nya. Aku hanya tak percaya dengan institusi yang mereka biasa sebut *****. Aku tak suka dengan kesombongan institusi itu, aku benci arogansi-arogansi mereka, aku muak dengan fanatisme institusi itu. Toh, pada akhirnya para anggota institusi-institusi calon penghuni surga (katanya) hanyalah mereka-mereka yang lebih mementingkan diri sendiri daripada Bapak-bapak tua beserta keluarganya yang menggigil kedinginan di luar pintu rumah yang (katanya) rumah Tuhan. Bukankah ironi? Di saat institusi-institusi itu berlomba mendapatkan porsi kekuasaan, mereka melupakan makna dari keberadaan Dia yang berhuruf besar.

Quote

"Karena yang membedakan manusia dengan binatang adalah BUKU"

-
Text

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berkata. “Teman-teman yang lain cemas dan was-was karena kamu dan buku-buku yang kamu baca.” Aku takkan menyalahkan kecemasan, kegelisahan serta pandangan mereka tentang aku. Tapi tentang buku, apakah buku-buku juga patut untuk ditakuti seperti itu? Mereka yang menjebak diri mereka sendiri dalam tembok yang mereka juga bangun sendiri kemudian berkata pongah “Aku benar, kau salah”. Sebenarnya tengah mencari pembenaran dan ketenangan. Pembenaran akan semua mereka yang sudah punya dan mereka terbuai akan kenyamanan itu. Buatku, mereka yang seperti itu hanyalah para pengecut yang tak mau membuka pintu rumah dan menyapa masyarakat luar. Mereka adalah bentuk nyata manusia anti sosial, tak toleran terhadap apa-apa yang bukan mereka. Menghakimi tanpa tahu pasti. Tetap, mereka merasa tinggi.

Photo Set
Quote

"Bahwa bertuhan dan beragama adalah dua hal yang sangat berbeda!"

-
Text

Perubahan, pasti terjadi. Namun, arah serta laju perubahan ditentukan oleh pelakunya. Jika aku sejenak merenung dan mencerna. Bukankah hanya butuh setengah revolusi matahari saja? Dalam durasi itu, aku dipertemukan dengan mereka. Yang kusebut kakak, kuanggap mentor dan kuangkat guru. Hanya butuh satu keputusan kecil untuk meluangkan waktu. Lihat kini dimana keberadaanku. Bukan, bukan, bukan. Ini memang bukan tentang siapapun, ini hanya tentangku. Bisa bertukar pikiran, berdebat dengan orang-orang hebat, menurutku. Bisa satu meja dengan guru-guru terbaik yang bisa kubayangkan. Menyesalkah aku?
Tidak, sekali lagi tidak. Mungkin manusia adalah lawan dari magnet. Karena, pada suatu titik, semua yang mencari akan sama-sama dipertemukan dengan para pencari.

Quote

"Aku berontak, karena aku gelisah.
Aku gelisah, karena aku peduli.
Aku peduli, karena aku mencintai
Aku mencintai, karena Sang Mahacinta.
Sang Mahacinta ada, tanpa perlu diadakan.
Titik"

-
Photo Set

zenpencils:

The Artist-Troll War 3: CREATORS > HATERS

Source: zenpencils.com
Link

Negara (Tanpa) Agama

myyearatvoa:

Agama adalah nafas hidup hampir seluruh penduduk bumi. Berdasarkan data The World Factbook CIA 2012, sekitar 90% penduduk dunia adalah pemeluk agama.

Begitu juga dengan di Indonesia. Agama ada di setiap sendi kehidupan, dari rumah hingga ke gedung-gedung pemerintah, menjadi urat nadinya,…

Buka Mata, Hati, Telinga :)

Source: myyearatvoa
Text

Pancasila bukanlah produk asli Indonesia, bukanlah disadur dari kebudayaan dan keberagaman di Indonesia. Pancasila adalah buah pemikiran Founding Fathers yang mampu memilah mana yang bisa diterapkan di Indonesia dan mana yang tidak.

Sila I, Monotheisme adalah impor dari luar Indonesia, karena agama asli Indonesia (yang lahir di Indonesia) adalah animisme

Sila II tentang Humanisme, turun dari Revolusi Prancis

Sila III tentang Nasionalisme adalah buah pemikiran Kant

Sila IV tentang kerakyatan adalah hasil Revolusi Amerika

Dan, sila V adalah intisari dari sosialisme serta Marxisme.

Jadi, masih mau menutup diri?

Quote

"Ketakutan akan era globalisasi hanya menandakan ketakutan untuk berduel ide di tingkat dunia."

- Rocky Gerung
Text

"Bahwa setiap manusia berhak mengetahui sebab dan akibatnya. Bukan hanya terikat kepada kebenaran yang telah didoktrinkan dan didogmakan. Akal sehat adalah senjata utama untuk menyingkap kebenaran, menegakkan kewarasan dan melawan kebodohan"

Bagi mereka yang mengetahui sejarah, tak ada keraguan bahwa peradaban Yunani Kuno adalah peradaban yang pertama mengedepankan penggunaan akal pikiran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup. Meskipun banyak dari jawaban-jawaban pemikir mereka yang terkesan ngaco, nyeleneh, aneh serta tanpa verifikasi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa penggunaan akal pikiran seperti yang mereka kedepankan adalah suatu lompatan dalam peradaban umat manusia.

Pertanyaan utama yang muncul di tengah peradaban itu, dan masih ditanyakan sampai sekarang adalah tentang hidup bermutu. Apa itu hidup bermutu? Kenapa hidup harus bermutu? Bagaimana cara agar hidup bisa bermutu? 

Yunani, dengan Academia serta Alexandria dengan Museum merupakan pusat pengetahuan terbesar pada zaman tersebut. Apa yang mereka dalami? Pertanyaan tentang makna keberadaan mereka kemudian mengerucut kepada satu arah yakninya pengusutan asal-usul sesuatu. Dimana dalam melakukan pengusutan mereka sudah menggunakan akal pikiran untuk MENCARI PENJELASAN bukan MENDAPATKAN LEGITIMASI. Mungkin, memang benar jika dikatakan bahwa saat itu para pemikir-pemikir hebat masih mengandalkan hasil pemikiran tanpa verifikasi lanjut. Cabang ilmu yang sekarang disebut mitologi. Namun, bukankah gelombang pergerakan pemikiran tersebut adalah suatu hal yang sangat mendobrak? Dimana pikiran kembali diaktifkan..

Berbicara tentang gerakan pengaktifan pikiran yang diprakarsai oleh Socrates, semuanya berawal dari kekalahan. Kekalahan Yunani dalam perang Peloponnesian mengakibatkan demoralisasi terhadap rakyat dan penguasa Yunani kala itu. Demoralisasi yang kemudian melahirkan ancaman-ancaman baru seperti gagap budaya hingga ketakutan Socrates akan terbawanya generasi muda Yunani ke dalam arus hedonisme. Sebagai upaya pembekalan bagi para pemuda-pemuda Yunani maka dimulailah upaya Socrates untuk mengaktifkan kembali akal sehat masyarakat Yunani. kala itu. Cara pengaktifan kembali akal sehat adalah dengan ilmu filsafat yang berupa kritik atau pertanyaan-pertanyaan dasar tentang kehidupan.

Kembali kepada pertanyaan utama tentang hidup bermutu. Di masa itu jawaban yang diusulkan para filsuf adalah dengan berpolitik. Kemudian, pertanyaan baru muncul. Apakah politik itu? Di sekolah, siswa-siswi Indonesia telah didoktrinkan bahwa politik adalah cara untuk berkuasa, baik secara konstitusional maupun non-konstitusional. Tepatkah doktrin tersebut? Menengok kembali ke Athena, sebagai tempat pertama kali kata politik dicetuskan. Apakah makna politik di sana? 

Aristoteles pernah berkata bahwa manusia adalah political animal atau binatang yang berpolitik. Politik yang dimaksud disini adalah cara yang diperlukan untuk memperoleh hidup bermutu. Politik, sejatinya menggunakan etika publik sebagai bahasa satu-satunya. Dapat dengan gamblang disimpulkan bahwa pada zaman Yunani kuno, politik dicetuskan sebagai cara untuk mencapai hidup bermutu dengan mengedepankan pendekatan menggunakan akal pikiran yang turun menjadi etika serta menghasilkan integritas bagi setiap orang untuk aktif berpolitik. Makna kata korupsi juga harus didefinisikan ulang, korupsi bukan hanya sekedar mengambil yang bukan haknya seperti yang didogmakan institusi pendidikan serta masyarakat kepada kita. Korupsi menurut filosofi Yunani jauh lebih luas daripada itu. Korupsi terjadi saat seseorang atau sekelompok orang memilih tidak berinvestasi dalam politik yang sebelumnya telah didefinisikan ulang sehingga sifat apatis terhadap politik juga kemudian dapat diinterpretasikan sebagai perilaku koruptif.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan keadaan di Senayan. Rocky Gerung menganalogikan politikus Senayan dewasa ini sebagai tubuh tanpa kepala. Mereka yang ada namun tidak menggunakan akal pikiran, atau mungkin tidak punya? Kata-kata Aristoteles mengenai manusia sebagai binatang yang berpolitik diplesetkan menjadi hanya binatang politik. Begitulah Senayan dalam pandangan Rocky Gerung. 

Berbicara Senayan hari ini, tidak bisa terlepas dari Senayan di masa lalu. Saat Orde Lama, parlemen dengan gampangnya menundukkan kepala terhadap sikap, pendapat dan pemikiran Bung Karno. Kemudian, datang Suharto dengan Supersemarnya. Senayan tetaplah menjadi pion-pion yang dengan mudah dimanfaatkan sang penguasa. Hingga kemudian timbul gerakan Reformasi yang sekarang sudah bagaikan legenda beserta mantra yang terus diucapkan dari hari ke hari. Perjuangan para pahlawan-pahlawan kala menduduki DPR sekarang seolah sia-sia. Reformasi memang sudah berjalan, tapi, signifikankah? Bukankah reformasi bukan sekedar upaya penggulingan Pak Harto? Reformasi masih berlangsung, bahkan mungkin sampai sekarang. Apakah sebenarnya yang menjadi penentu reformasi? Bang Rocky berpendapat bahwa jalan pikiranlah yang menjadi penentu reformasi. Tanpa itu, Senayan hanya terdiri dari tubuh-tubuh kosong yang lalu lalang. 

Masih berbicara tentang reformasi, kita semua tahu dan paham bahwa reformasi adalah upaya pergantian rezim, pergantian sistem. Namun, pernahkah terpikir bagaimana hasil reformasi dewasa ini? Mereka berkata tentang perubahan, apakah perubahan itu ada jika kita masih membeli produk Orde Baru sejak dari dalam pikiran? Kemudian, kita juga masih memilih orang-orang yang tak punya pikiran dalam mengemudikan roda reformasi. Tidakkah masyarakat ingin sadar?

Mungkin, definisi tentang politik sebagai cara untuk memperoleh kekuasaan sudah begitu tertanam dalam benak masyarakat sehingga masyarakat menjadi apatis serta para wakil yang terhormat menjadi alpa akan kenikmatan politik. Politik ada dan kemudian ditegakkan awalnya adalah untuk keadilan, sama sekali bukan untuk kekuasaan. Kenikmatan dalam berpolitik terletak pada saat-saat debat pemikiran terjadi, saat dimana setiap orang mempertahankan-mempertahankan argumen. Sekarang? Politik tidak upahnya sebuah panggung teater yang menawarkan kesemuan serta kebahagiaan sesaat dan sesat. Sekali lagi, kenapa kita tidak mencoba mendefinisikan ulang politik?

Seharusnya, politik di negara ini mampu menjadi semacam saringan argumen-argumen yang bertebaran. Argumen-argumen serta pemikiran-pemikiran yang muncul dari akal-akal yang sehat dan waras dengan berdasar kepada logika, reasoning serta etika-etika publik. Partai, sebagai salah satu alat dalam berpolitik juga seharusnya bukan menjadi tempat untuk saling adu kepopuleran tetapi menjadi wadah diskusi antar warga negara tentang pendirian, pemikiran dan ideologi masing-masing. Pada akhirnya, nilai filosofi dari politik sendiri meminta kehadiran akal pikiran yang sehat sebagai basis. Karena, politik dengan akal akan menghadirkan manusia. Sementara, jika basis politik yang dipilih adalah ayat-ayat langit maka, seperti kata Rocky Gerung, politik dengan ayat adalah politik yang menghina manusia. Tentang para pelaku politik, serta para penyumbang politik yang bertindak seusai dengan kemampuan mereka, mereka lah yang menjadi penyumbang-penyumbang peradaban. 

Saat berbicara tentang politik, ada dua hal yang juga disinggung oleh Rocky Gerung. Tentang diskriminasi terhadap wanita serta tentang demokrasi itu sendiri. Dimulai dari wanita, dalam peradaban Yunani kuno, wanita adalah individu yang ditinggalkan, direndahkan serta dianggap tak mampu berpikir. Aristoteles pernah berkata bahwa wanita adalah bayi bertubuh besar. Oleh karena itu, pemikir-pemikir Yunani kuno tidak ingin membuka ruang percakapan untuk para wanita. Sementara di Indonesia? Wanita masih diperlakukan secara (mungkin) tidak adil. Politik, yang berdasar pada akal sehat serta kemudian bermuara kepada etika publik hanya akan menjadi omong kosong belaka selama para wanita masih dianggap sebagai second sex. Dan jika kita mau jujur dalam memandang, adalah sebuah fakta bahwa dalam peradaban dunia sejak dulu hingga sekarang, lelaki selalu didahulukan dibandingkan wanita. Sehingga, bukankah wajar jika didapat kesimpulan bahwa asal usul diskriminasi adalah setua peradaban manusia itu sendiri?

Yunani kuno gagal dalam mewujudkan makna filosofis yang mereka sendiri rumuskan karena perihal diskriminasi ini. Diskrimimasi adalah sebuah pengkhianatan terhadap politik yang menuntuk keadilan, kesamaan dan kesetaraan. Sehingga dibutuhkan suatu tindakan radikal untuk menghilangkan warisan peradaban yang berupa patriarki atau diskriminasi terhadap para wanita. Filsafat Yunani kuno tidak mampu menghilangkan diskriminasi dan mungkin malah membantu menyebarkan paham diskriminasi tersebut sebagaimana dilihat dari pendapat Aristoteles. Filsafat Yunani dikendalikan oleh patriarki, jika ditilik maka juga didapat data bahwa sebagian besar peradaban juga dikendaliklan oleh patriarki. Bahkan agama juga dikendalikan oleh patriarki. Masihkah kita akan menutup mata terhadap fakta-fakta tersebut? Tidakkah terbersit keinginan untuk mulai mempertanyakan?

Kemudian, hal terakhir yang menjadi bahan pembicaraan Rocky Gerung adalah tentang demokrasi. Bagi produk-produk sistem pendidikan Indonesia, demokrasi didefinisikan secara sederhana dimana yang benar adalah mayoritas (mayoritarianisme). Padahal, demokrasi bukanlah mayoritarianisme! Prinsip kedaulatan rakyat yang dicetuskan oleh Rousseau dimaksudkan agar demokrasi tidak menjadi mayoritarianisme. Kemunculan prinsip kedaulatan rakyat berasal dari dua premis. Premis pertama, “Semua manusia itu narsis”. Premis kedua, “Narsisme adalah manusia-manusia yang mencintai bayangannya”. Kesimpulannya, kedaulatan rakyat adalah kapal bagi bayangan-bayangan narsisme dalam berpolitik. Demokrasi adalah paham untuk mengetahui general will, sementara general will itu sendiri berasal dari narsisme setiap rakyat. Itulah demokrasi yang sebenarnya, dengan tetap berada pada ranah etika. Demokrasi bukanlah demokrasi jika berdasar kepada dalil, karena dalil berasal dari langit, bukan dari rakyat. Sementara, dalam demokrasi, rakyatlah yang menjadi tuhan. “Saat rakyat berbicara, bahkan Tuhan tidak bisa mengubah suara rakyat”

Senayan, kini mungkin hanya diduduki oleh tubuh-tubuh tanpa pikiran. Transaksi argumen yang seharusnya ada di sana, berubah menjadi sekedar tukar tambah sentimen. Indonesia kemudian menjelma menjadi bangsa kekurangan pikiran karena politik hanya sekedar menjadi tontonan. Politik sudah tidak lagi menjadi ajang pengaktifkan pikiran dan akal sehat. Para caleg kemudian tidak diketahui lagi mewakili rakyat ataukah mewakili arwah? Rasionalitas yang seharusnya dikedepankan, disalip oleh ayat-ayat, dalil-dalil serta perasaan-perasaan sampah. Sudah seharusnya politik di Indonesia didefinisikan kembali, baik makna, sistem bahkan mungkin semuanya. Karena sekali lagi, senayan harusnya menjadi lapangan perang argumen, bukan pasar untuk sentimen-sentimen

Ditulis berdasarkan Mimbar Gagasan dan Diskusi yang diselenggarakan oleh Suar Indonesia dan menghadirkan Bapak Rocky Gerung

Quote

"Karena seharusnya memilih kebenaran adalah hak setiap manusia. Kebenaran adalah kebenaran yang dipilih oleh akal sehat, bukan yang hanya diterima karena didogmakan dan didoktrinkan."

-
Quote

"Siapa kita sehingga berhak menentukan parameter dari kata ideal?"

-