Chat
  • Aing : Bro, main ps yuk ke rumah aing
  • 7 kampretos : Ayuk sih ayuk
  • Sesampai di rumah, asik maen PS
  • Kampretos 1 : Cuy, udah mau adzan nih. Gak Jumatan?
  • Aing + kampretos lain : Udah, sekali-sekali bolos aja yuk
  • (Serentak) Ayolah!
  • Jumatan selesai, game masih lanjut
  • Triiingg Tringg (HP Motorola aing bunyi)
  • Ada SMS dari dia (Buka SMS)
  • Dia : Sayang sayang sayang gak sama sayang? Sayang sayang sama sayang. Sayang sayang ya sayang sayang .....
  • Dan detik itu masih gua ingat sampe sekarang. Kenangan indah karena dia hanya terjadi sekali, tak terulangi. Kalau bukan kita yang mengenangnya, toh dia jadi tak berarti. Kamu orang pertama. Dan selalu jadi yang pertama. Maaf untuk aku yang bajingan itu. Bahagia di sana yah? : )
Photo Set
Audio

THE PANAS DALAM - AYAHKONDA

AYAHKONDA

Ayahku punya anakonda.
Dia tinggal di dalam celananya.
Ayahku punya anakonda.
Hitam. Besar. Dan penuh wibawa.

Setiap hari ditimang.
Hingga besar dan  lincah.
Hanya  ibuku. Yang boleh tahu.
Hanya  ibuku. Yang bisa  tahu.
Kakek nenekku. Juga pernah tahu.
waktu kecil dulu

Bandung,  2003 
Source: SoundCloud / PidiBaiq
Chat
  • A : Kamu gak puasa?
  • B: Aku mah nahan haus dan lapar aja yang pastinya.
  • A : Lah itu kan puasa?
  • B : Aku mah gak mau takabur bilang aku puasa, lebih baik aku bilang aku gak puasa, tapi cuma nahan lapar dan haus. Yang menilai kita itu puasa atau tidak kan Tuhan kak. Manusia mah gak mampu euy jadi hakim yang adil.
  • A : Jadi, kamu puasa gak?
  • B : Aku GAK puasa, menurutku
Quote

"The more you see
The more you read
The more you realize
The more you will be"

- Rumah Kaca, seorang kakak dan seorang guru :)
Quote

"Kata dia, jangan banyak berharap, siapapun calegnya, walikotanya, gubernurnya, presidennya, Ciroyom tetap bau."

- Kak Inun, perkataan bapak-bapak penjual es kelapa muda di Ciroyom
Photo Set
Photo

gilangpermata:

Terima kasih,.. with Indah and Ria – View on Path.

Source: gilangpermata
Text

Ini, rumah.
Tempat dimana semua beban menguap.
Menjadi ringan seolah tiada
Menjadi fana seolah tak nyata

Ini, rumah
Dimana senyum dan tawa datang tanpa diminta
Dimana kentut dan sendawa bebas ada tanpa peduli apa
Ini, yang memang disebut rumah

Ini, rumah
Tempat kembali kala kaki lelah untuk berlari
Tempat balik saat halangan di depan begitu susah dirobohkan
Tempat mempersiapkan diri untuk mendobrak lagi

Ini, rumah
Dimana tanggung jawab ada tanpa butuh kata
Dimana kewajiban ada tanpa perlu disebutkan
Dimana bahagia ada, tanpa mencari syarat

Photo

Titik

Photo

syhptr:

Kata orang, Merbabu lebih tua dari Merapi. Salam dari puncak si kakak untuk sang adik.

Source: syhptr
Text

Hai, kalian. Detik ini, sudah sampai mana kereta itu? Ah, andai kalian tahu betapa berat aku menerima keharusan ini. Melewatkan kesempatan langka seperti ini. Seolah kembali ke dua tahun yang lalu, dimana kita bersama menelisik keindahan sang mahameru.

Malam larut, kepala pusing, melankoli menghampiri. Kalian kini mungkin telah tertidur lelap dengan kedua kaki kalian angkat ke kursi. Atau mungkin sedang sibuk membaca buku-buku yang kalian bawa sebagai bekal. Atau tengah bercanda tawa sebelum petualangan benar dimulai. 

Kepada kalian yang namanya tak bisa tidak kutuliskan di halaman kata pengantar, andai waktu penentuan bisa kutunda, aku kan berlari mengejar kalian.

Ini adalah kesempatan terakhir, sebelum salah seorang dari kita lepas dari belenggu gajah. Setelah itu, kapan lagi aku mendengar dan menikmati kebersamaan kita? Ah, kawan, titipkan sajalah salamku pada puncak Merbabu itu.

Titip doa untuk aku, titip doa untuk dunia, Bahwa momen memang tak pernah terencana, tapi dia ada. Ini, hanyalah tentang menunda

Quote

"

I was born in a time when the majority of young people had lost faith in God, for the same reason their elders had had it – without knowing why. And since the human spirit naturally tends to make judgements based on feeling instead of reason, most of these young people chose Humanity to replace God. I, however, am the sort of person who is always on the fringe of what he belongs to, seeing not only the multitude he’s a part of but also the wide-open spaces around it. That’s why I didn’t give up God as completely as they did, and I never accepted Humanity. I reasoned that God, while improbable, might exist, in which case he should be worshipped; whereas Humanity, being a mere biological idea and signifying nothing more than the animal species we belong to, was no more deserving of worship than any other animal species. The cult of Humanity, with its rites of Freedom and Equality, always struck me as a revival of those ancient cults in which gods were like animals or had animal heads.

And so, not knowing how to believe in God and unable to believe in an aggregate of animals, I, along with other people on the fringe, kept a distance from things, a distance commonly called Decadence. Decadence is the total loss of unconsciousness, which is the very basis of life. Could it think, the heart would stop beating.

For those few like me who live without knowing how to have life, what’s left but renunciation as our way and contemplation as our destiny? Not knowing nor able to know what religious life is, since faith isn’t acquired through reason, and unable to have faith in or even react to the abstract notion of man, we’re left with the aesthetic contemplation of life as our reason for having a soul. Impassive to the solemnity of any and all worlds, indifferent to the divine, and disdainers of what is human, we uselessly surrender ourselves to pointless sensation, cultivated in a refined Epicureanism, as befits our cerebral nerves.

Retaining from science only its fundamental precept – that everything is subject to fatal laws, which we cannot freely react to since the laws themselves determine all reactions – and seeing how this precept concurs with the more ancient one of the divine fatality of things, we abdicate from every effort like the weak-bodied from athletic endeavours, and we hunch over the book of sensations like scrupulous scholars of feeling.

Taking nothing seriously and recognizing our sensations as the only reality we have for certain, we take refuge there, exploring them like large unknown countries. And if we apply ourselves diligently not only to aesthetic contemplation but also to the expression of its methods and results, it’s because the poetry or prose we write – devoid of any desire to move anyone else’s will or to mould anyone’s understanding – is merely like when a reader reads out loud to fully objectify the subjective pleasure of reading.

We’re well aware that every creative work is imperfect and that our most dubious aesthetic contemplation will be the one whose object is what we write. But everything is imperfect. There’s no sunset so lovely it couldn’t be yet lovelier, no gentle breeze bringing us sleep that couldn’t bring a yet sounder sleep. And so, contemplators of statues and mountains alike, enjoying both books and the passing days, and dreaming all things so as to transform them into our own substance, we will also write down descriptions and analyses which, when they’re finished, will become extraneous things that we can enjoy as if they happened along one day

"

-

Book of Disquiet - Fernando Pessoa

A good book starts with a powerful introduction that sucks in the reader to keep reading. This is one of the most powerful intro I’ve ever read. 

(via mirzaadriannp)

(via gilangpermata)

Source: mirzaadriannp
Text

Tidak seharusnya Negara masuk keranah pribadi seseorang, apalagi menyangkut kepercayaan. Semua agama seharusny di catat dalam kolom KTP agama, Indonesia masih mempunyai PR besar tentang, toleransi, diskriminasi, dan keharmonisan antara umat beragama..

Ironis sekali ketika agama dari negeri seberang, timur tengah khususnya malah di legitimasi oleh negara, sementara agama pelestari kebudayaan, pewaris spiritual bangsa seperti, sunda wiwitan, tidak akomodir.. mereka bukan agama baru, agama nusantara jauh ada, sebelum agama pendatang ada.. jauh sebelum theory Gujarat, ksatria, brahmana, dan waysia, dicetuskan, kegamaan spiritual nusantara telah ada.

Agama-agama nusantara ini hanya memperjuangkan hak konsitusional mereka, nyatanya dalam perjalanan sejarah mereka, mereka selalu ditekan, selalu digiring untuk memilih salah satu agama dari 6 yang telah dilegitimasi Negara.

Negara tidak punyak hak untuk menentukan agama yang diakui dan juga tidak diakui, seharusnya agama diperlakukan sama oleh Negara, karena itu merupakan bagian dari hak kebebasan masyarakat untuk berkeyakinan. Kenapa kaum tertentu tidak boleh mencantumkan agamanya, apakah karena mereka mempunyai agama yang tidak disahkan oleh Negara .. seharusnya kita berhak mencantumkan agama apapun dikolom KTP. Istilah agama yang diakui dan tidak diakui tidak bisa diterima.. dari 243 kepercayaan, hanya 6 yang disahkan ?

Yang perlu identitas ialah mereka, lalu kenapa Negara otoriter mengaturnya ? Negara mempersulit mereka, mendeskriminasikan kaum minor..

Ketika kita sebagai bangsa, dan telah mengakui kebhinekaan sebagai suatu kodrat dari bangsa ini. Tapi pada implementasinya menyimpang dari konstitusi itu sendiri, seperti apa yang telah dilakukan MUI, dan MENDAGRI.. UUD 45, tertera “melindungi segenap bangsa Indonesia” tetapi dalam implementasinya sampai sekarang sunni, syiah, ahmadiah, kolom agama di KTP, kasus gereja HKBP. Di Ujung sumatera ada agama parmalin, di Kalimantan ada agama kaharingan, di Sulawesi ada tolotang, ada watu telu dan ini bagian dari warga Indonesia.

Kenapa hingga kini agama kaharingan dihindukan, agama tholotang dihindukan ?, Definisi agama katanya harus ada nabinya, harus ada kitabnya, transenden.. Menurut saya itu gak lebih dari sekedar definisi yang diadopsi dari kebudayaan lain, seperti timur tengah, dan negara lainya (adobsi dari kebudayaan semit/samawi).

Bagaimana dengan mereka yang tidak mengenal budaya semit/samawi ? bisa saja mereka mempunyai definisi dan parameter yang berbeda tentang agama. Kolom agama, tidak harus dihilangkan, tapi cukup ditulis, apapun agamanya, itu merupakan suatu kesetaraan. Menurut saya mengakui keberadaan suatu kepercayaan di Indonesia ialah sangat penting sekali, karena mereka akan merasa diakui bagian dari Negara ini, bangsa ini. Kalau dikosongkan kolomnya seolah-olah kami ini warga Negara kelas dua, outcast.

Agama, itu hak sangat private, kenapa setiap kelompok yang lemah harus berjuang dengan sekuat tenaga dulu, baru diakui, tanpa adanya kesadaran dari Negara. Ketika sunda wiwidtan, parmalin, di kaharingan, tolotang, watutelu digolongkan sebagai aliran. Kalau begitu samawi juga bisa dikategorikan sebagai aliran, mengalir dari timur tengah, romawi, dan lain-lain.

Dalam dunia pendidikan guru-guru ikut menjadi peran, “warga Negara hanya mengakaui 6 agama saja, dan diluar itu bukan agama”. Dan itu merupakan sebuah tekanan bagi anak-anak mereka yang menganut diluar kepercayaan 6 agama tersebut, anak-anak mereka bertanya kepada dirinya sendiri “lalu kami ini apa? Bagaimana dengan identitas kami ?”. Negara secara sturtucal dan sistematis telah membunuh identitas-identias yang minor, yang tidak diakui, di legitimasi sebagai kebenaran.

Sebuah keyakinan dan keagamaan, tidak perlu dilaporkan kepada Negara, untuk apa ? Itu keyakinan hubungan kita antara dengan tuhan, ini tertera dalam konstitusi, tapi nyatanya adanya oknum-oknum yang selalu bersuara membela kamu mayor, seperti MUI. Agama nusantara ada sebelum republic ini ada, ironisnya mereka tidak diakui dinegara ini. Negara yang mengaku berbhineka, HANYA MENGAKU.

Dan sebetulanya pengakuan yang mereka tuntut yang mereka ingin rasakan, apabila mereka setelah diakui, mereka merasa aman, terlindungi oleh Negara dalam hak sipil, dan mencegah timbulnya kekerasan baru atas nama agama, seperti yang terjadi main bakar, gusur, dan bunuh kepada kaum-kaum yang melakukan blasphemy seperti ahmadiah, dan HKBP.

Setelah KTP didapatkan dan ketika kolom agama diksongkan, terjadi diskriminasi, seperti sulitnya mendapat pekerjaan, tidak dapat mencatat akta pernikahan, anak-anak mereka tidak diakui Negara dan menjadi anak-anak liar, diluar pernikahan, bahkan mereka dikuburpun masih mendapat kesulitan. Kapling-kapling di TPU telah dipilah-pilah berdasarkan agama, Ada diskriminasi real yang terjadi kepada mereka yang kita harus pertimbangkan.

http://agnostikindonesia.wordpress.com/2014/04/30/balada-agama-nusantara/

Tidak bermaksud apa, hanya sebuah renungan

Text

Duhai kasih

Aku sebenarnya berharap ada kau disisiku

Bercumbu dalam orasi-orasi tentang pembebasan

Berkasih-kasih dalam debat panjang revolusi

Duhai kasih

Aku sebenarnya berharap kau ada disisiku

Berjalan bergandengan dengan kaum tertindas

Bernyanyi mesra dalam tarian penantian

atau hanya sekedar diam dan saling memandang

sambil berpikir berdua adakah ruang untuk kita

berucap mesra dalam tangisan kehilangan

Duhai kasih

Sekali lagi aku berharap

Bukankah kamu tahu

Revolusi butuh pejuang

Siapkan dirimu…..

Agar kutanamkan benih revolusi di rahimmu

-Berseliweran di timeline twitter dan menarik