Mari Menabung dan selesaikan semua urusan :)
Mari Menabung dan selesaikan semua urusan :)
Karena Saya Percaya Mereka Mencari Sesuatu Yang Lebih Dari Sekedar Materi
Barusan banget, gua baru selesai nonton pertunjukan Saluang Concerto yang di-compose oleh Syahrial Tando, salah seorang maestro music ensemble Indonesia (atau begitu yang disebutkan Da Revan di grup FB hehehe). Karena ini ingatan masih fresh maka gua putusin buat nulis reviewnya mala mini juga sebelum gua lupa semua suasana, keindahan serta rasa yang gua dapetin waktu nonton konser tadi. Oke, setelah ini gaya bahasanya gak bakalan diubah jadi serious ataupun menjadi nyastra biar gampang dicerna hehehehe. So, don’t ever change your channel and happy reading! :D
Minggu, 9 Juni 2013, 20.00 WIB
Akhirnya, setelah sempat tertunda satu hari karena macetnya lalu lintas Bandung-Jakarta, keinginan guaa buat nonton Saluang Concerto kesampaian juga. Saking takut Jakarta bakal macet lagi, 3 jam sebelum acara mulai alias jam 5 sore gua udah nyampe di TIM pelangak pelongok sendirian. Untungnya di TIM banyak yang bisa dilihat, mulai dari cewek-cewek cakep hilir mudik di XXI, anak-anak lagi latihan modern dance ampe buku-buku langka yang bebas buat dibaca. Di took buku TIM gua nemu Bilangan Fu dan Anak Semua Bangsa-nya Mas Pram loh hehehehe.
Ok, sebelum tulisan ini makin melenceng dari topic mari kita kembali ngebahas Saluang Concerto ini. Pertama, bahas latar belakang diadain konser sama ulasan materi serta personilnya ya. Pertama, tentang latar belakang, karena gak ada ditulis di handout jadi gak bakalan gua bahas ya. Cuma, buat informasi aja, Saluang Concerto ini digagas dan diproduseri oleh Pak Totom Kodrad dengan mengatasnamakan komunitas Manjalin Raso yang mengangkat saluang sebagai unsur utama dalam berbagai kreativitas music yang diharapkan mampu menjalin rasa dengan berbagai disiplin seni yang jujur, berani dan istiqamah dalam mencapai pembaharuan dan pencerahan namun tetap melestarikan dan memanfaatkan kekuatan budaya tradisional. Nah, untuk personilnya, dari handoutnya ada 7 orang yang sepertinya paling berpengaruh dan paling popular di penampilan ini. Pertama tentu saja komposernya yaitu Syahrial Tando, terus ada Hasvan Nasution sebagai Konduktor/Orkestrator. Ketiga ada M. Aidil Usman sebagai Manager Panggung, Mursal Tanjung sebagai Pimpro, Zizie sebagai solo cellist da nada M. Halim sebagai salah satu personil yang paling banyak pengalaman dan penghargaannya. Lengkapnya, silakan google nama-nama tadi ya hehehe
Selanjutnya, gua bakal jelasin materi konsernya dulu. Jadi, durasi konser ini tu 90 menit dengan rincian sebagai berikut “Bagaritiak” yang dibagi 4 part memiliki durasi 40 menit, Langgam Raso 7 menit, Gali-Gali 13 menit, Garitiak Parintang 12 menit dan terakhir Urak 17 menit. Untuk penjelasan lengkap tentang ini ntar liat aja gambar handout concert yang bakalan gua uplot.
Terakhir, mari kita masuk sesi review. Sebelumnya, mau nekenin kalau gua ini awam banget soal music, jadi review yang gua tulis murni subjektivitas dan kesotoyan gua dalam menghayati (ceileh). Tentang penonton, penontonnya dikit banget, bule samping gua malah ampe bilang, “Saya mau pindah aja cari posisi PW, nanti juga pasti banyak yang kosong”. Ini gak tau gua si bule nyindir apa kagak, tapi gua sih ngerasa kesindir, kayak tahu banget kalo bangsa kita gak ngehargai seni budayanya sendiri. Giliran ada, gak mau nonton atau ngelestariin, giliran diambil aja marah.
Selanjutnya, panggung, minimalis namun tetap terkesan mewah dengan keminimalisannya. Komposisi pemusiknya pun seimbang antara kiri dan kanan. Di kiri gua itu pemain orchestra semua, di kanan gua diisi sama pemain instrument music tradisional yang pindah-pindah dari waktu ke waktu.
Untuk instrument yang dipakai selain yang dipakai di orchestra kayak violin, tamborin, cello dll, di saluang concerto ini juga ditampilkan harmonisasi dari berbagai macam bunyi saluang mulai dari yang tradisional kayak saluang darek, sampelong, bansi dan saluang panjang ampe saluang modifikasi kayak sarpadunai, sake, labunai, oboba dll. Penggunaan berbagai macam saluang ini memberikan warna-warna bunyi yang indah, harmonis sekaligus “beda” daripada yang lain.
Pertunjukan dimulai dengan MC, setelah itu mulailah terdengar bunyi saluang yang mendayu-dayu mengingatkan gua akan kampong halaman. Bunyinya, cantik, indah tak terkira. Lagu bagaritiak 1 dan 2dimainkan full saluang, jadi Cuma mengandalkan keahlian kelincahan tangan pemain saluang serta harmonisasi dari saluang-saluang yang digunakan.
Bagaritiak 3 berharmonisasi dengan bunyi 3 akordion yang melengking-lengkin mengikuti nada saluang yang tetap seperti itu. Indah, penuh kenangan dan mistis hehehe. Bagaritiak 4 menjadi bagian paling favorit buat gua. Soalnya perpaduan antara saluang dan orkestranya itu keren banget. Diawali dengan orkestranya yang dengan tenang memulai lagu, saluang masuk, orkestrapun mulai mengarah ke puncak dan yak. Kayak orgasme, apa yang gua dengar tadi itu benar-benar keren banget, suara khas 30an saluang yang dimainkan berirama dengan music orchestra. Dua bentuk seni dari akar budaya yang berbeda namun bisa bersatu dengan indah di telinga gua. TOP lah.
Selanjutnya lagu Langgam Raso, harmonisasi dari saluang dan orchestra kemudian ditingkahi bunyi uni dari didjeredoo yang seperti lolongan. Tapi entah kenapa kok malah makin keren ya? Suara yang gua denger malah kerasa makin mistis dengan getara dari didjeredoo. Kemudian, 3 lagu terakhir yaitunya Gali-Gali, Garitiak Parintang serta Urak dengan vocalnya berhasil ngebawa gua terbang kea lam yang gua sendiri gak tau itu alam apa. Yang gua tau Cuma gua terbuai di keindahan suara yang gua dengar. Ya, dari lagu Gali-Gali gua kebanyakan merem buat menikmati nada-nada yang gua dengar. Dan entah kenapa, makin lama mendengar, makin terbuai dalam musiknya dan gua sangat menikmati perasaan itu. Sampai akhir lagu terakhir, gak sadar air mata gua netes, gak tau kenapa. Karena rindu kampong halaman yang diamplifikasi oleh sayatan bunyi saluang nan mistis kali ya? Hehehehe
Keseluruhan, ini pertunjukan berhasil menerobos peringkat 5 besar pertunjukan terbaik yang pernah gua nonton. Sedikit catatan kecil, gua salut banget ama Produser sekaligus penggagasnya yaitu Pak Totom Susilohutomo Kodrat yang tetap semangat nonton walaupun berada di kursi roda. Beliau Nampak sangat menikmati perannya sebagai orang yang membuat para pemusik itu bisa tampil, bahagianya terpancar jelas dari kursi rodanya. Dan kembali, gua teringat satu janji yang pasti bakal gua tepati, sama dengan Pak Totom, gua juga pengen menciptakan suatu pertunjukan seni yang megah, indah, tradisional dan ngebuat TIM penuh sesak dengan pertunjukan yang bakal gua adain. Amin dulu ah. Amiiiinnnnn….
Terakhir, pesan sponsor. Teruntuk teman-temanku pemuda-pemudi di Indonesia. Mungkin akan ada yang berkata bahwa aku terlalu menghabiskan uang untuk pertunjukan-pertunjukan seni yang aku saksikan. Namun, sadarkah bahwa jumlah uang itu sama dengan uang kalian nonton bioskop? Atau malah mungkin kurang. Dan tahukah bahwa hanya dengan itu kita bisa membayar jasa mereka yang tetap setia menjadi seniman dan melestarikan seni budaya kita. Kalau tak ada lagi seniman seperti mereka, siapa lagi yang akan menjadi garda terdepan untuk pelestarian seni budaya bangsa? Mudah memang untuk marah saat seni budaya kita diklaim, namun berkacalah, sebelum itu kita sudah melakukan apa? Jadi, mari budayakan menonton pertunjukan seni budaya tradisional bangsa. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? :D
PADUSI, Karena Perempuan Itu Lebih
Minggu, 12 Mei 13.50 WIB
Di dalam mata saya yang awam akan seni pertunjukan, pertunjukan PADUSI kemaren benar-benar memukau. Sebelumnya, saya ingin menekankan bahwa saya hanya seorang penikmat seni tradisional, khususnya Minangkabau. Penikmat, bukan pelaku ataupun pelestari.
Tirai dibuka, hentakan music pembuka langsung menerbangkan saya ke alam nostalgia kampong halaman, namun secepat hentakannya, cepat pula music itu menghilang, menjauh hingga kemudian sunyi terdengar. Dan, lihatlah di depan sana, layar besar membentang menampilkan pemandangan yang tak kan pernah hilang dari ingatan, Bandara Internasional Minangkabau…
Satu per satu pemeran masuk menggambarkan bagaimana hiruk pikuk bandara di sana. Hingga saat dimana seorang wanita dengan dandanan hippie masuk, tinggi, putih, cantik. Dialah sang Padusi, yang ikut menjadi penonton kisah yang akan terjadi nanti. Hal pertama yang bisa saya tangkap dari dialog pertama pada pertunjukan ini adalah Nia Dinata benar-benar mencoba mengadaptasi gaya bicara Minangkabau tradisional yang berima, bagaikan berpuisi dan berpantun. Dan sebagai orang Minangkabau, saya memuji Nia Dinata karena menurut saya dia berhasil. Dialognya berisi, unik, tanpa hilang nuansa tradisi, serta memiliki nilai humor yang menggelitik. Padusi monolog tentang perjalanannya kembali ke tanah kelahiran, hingga kemudian cerita berlanjut, ke Talago Biru.
Di Talago Biru, cerita pertama tentang Puti Bungsu dimulai. Dengan settingan latar yang apik memanfaatkan teknologi multimedia dikombinasikan dengan suatu layar tembus pandang untuk penambahan efek animasi di panggung. Satu kata yang pantas untuk pembukaan cerita pertama ini, AMAZING! Menurut saya, efeknya tidak berlebihan, sesuai komposisinya, tarian yang ditampilkan pada adegan ini menggambarkan bagaimana bidadari-bidadari turun ke Talago, dan kemudian bercanda ria untuk kemudian mandi di sana. Sebelumnya, Malin Deman sudah masuk untuk membuka cerita dan pada saat para bidadari tengah menari dengan riang gembira, Malin Deman secara aperiodic keluar-masuk panggung untuk mengintai hingga pada suatu saat, si Malin Deman mengambil selendang milik Puti Bungsu. Sementara para bidadari terus menari dan mandi, hingga waktu berjalan dan waktunya tiba untuk kembali ke khayangan. Apa daya, tarian riang gembira para bidadari menjadi tarian duka perpisahan. Selendang Puti Bungsu hilang tak tau rimbanya, sementara tanpa itu dia takkan bisa pulang, dan para bidadari yang lain tak bisa untuk tidak pulang. Mereka pulang, meninggalkan Puti Bungsu, sendiri, termangu sepi. Masuklah Malin Deman, menawarkan untuk menjadi tempat Puti Bungsu berteduh. Sedikit dialog, namun maknanya sampai, Puti Bungsu yang malu, dan Malin Deman dengan rasa merasa menang karena berhasil menaklukkan bidadari khayangan, meski lewat tipuan.
Saat perjalanan pulang, kebersamaan Malin Deman dengan sang bidadari tak ayal membuat seisi kampong gempar, masyarakat yang tadinya sedang mencari ikan dan tengah menanak nasi langsung terhenti dan kaget. Anyway, tarian yang menggambarkan menjaring ikan dan menanak nasi yang diciptakan oleh Tom Ibnur, benar-benar indah dan anggun..
Di rumah, waktu telah berlalu hingga anakpun lahir dari hubungan Puti Bungsu dan Malin Deman. Namun, apa daya, tempat Puti Bungsu bukanlah di bumi, rumahnya khayangan, tempat dia akan berpulang. Tak salah, bila dia kemudian selalu mencari dan mencari dimanakah selendangnya tersembunyi. Jajang C. Noer, sebagai ibu Malin Deman sukses memainkan karakternya dengan baik, seorang ibu khas Minangkabau yang cerewet, ceplas-ceplos apa adanya. Dialek dan permainan kata dari Jajang mampu membuat penonton tertawa akan nilai humorisnya. Memang, tak diragukan lagi bahwa Jajang C. Noer benar-benar salah satu aktris senior terbaik yang dimiliki Negara ini. Selanjutnya, pertunjukan tetap berlanjut, ibu Malin Deman tertidur pulas saat kutu nya tengah dicari Puti Bungsu, dan apa daya, Puti Bungsu berhasil mengambil kunci lumbung padi, satu-satunya tempat yang belum pernah dimasukinya. Dan, disana dia menemukan apa yang selama ini dicarinya, selendang untuk dia terbang kembali ke khayangan. Puti Bungsu pergi, pulang ke tempatnya berpulang. Meninggalkan sang anak yang telah ia lahirkan, serta Malin Deman yang mencintainya sepenuh hati. Namun, perempuan, bagaimanapun itu, pasti tak tahan hidup dalam suatu keterpaksaan, suatu saat dia pasti ingin bebas dari kekangan, seperti Puti Bungsu.
Saya akui, adegan kembalinya Puti Bungsu ke langit adalah salah satu adegan yang paling keren di pertunjukan ini. Kenapa kau bilang? Karena adegan ini mengkombinasikan keanggunan gerakan tari yang dibawakan oleh Puti Bungsu, dipadukan dengan music yang mengangkat suasana menjadi menegangkan sekaligus menyedihkan dan kemudian ditambah kombinasi apik multimedia dengan pemanfaatan double screen seperti yang saya ceritakan di atas. Adegan saat Puti bungsu kembali ke khayangan diselingi dengan lampu sorot yang menyorot si Padusi, yang menyaksikan dari kegelapan di sudut panggung.
Sampai cerita pertama selesai, semuanya menurut saya masih sempurna dan sesuai ekspektasi. Indah, modern sekaligus menganut nilai tradisi yang tak luntur. Sampai saat cerita pertama selesai. Saya mengangkat dua jempol untuk music, teater, tarian, kostum dan efek multimedianya.
Cerita kedua, tentang Lareh Simawang. Dan disini saya sedikit mengkritik perpindahan antara cerita pertama dan kedua yang menurut saya kurang smooth. Pada saat akhir cerita pertama, dikisahkan Malin Deman sedang dalam kesedihan yang sangat karena ditinggal Puti Bungsu, pada transisi antar cerita tiba-tiba saja Malin Deman harus bertarung dengan perampok dan datanglah Lareh Simawang untuk membantu. Adegan saat itu terkesan dipaksakan dan saya tidak menangkap makna adegan tersebut. Sepertinya memang hanya sebagai transisi antar cerita. Walaupun begitu, tarian yang ditampilkan yang menggambarkan pertarungan Lareh Simawang, Malin Deman dan para perampok benar-benar atraktif, ditemani dengan komposisi music yang menurut saya benar-benar memainkan perasaan menjadi tegang dan ikut-ikutan deg-degan…
Setelah pertarungan yang dimenangkan oleh Lareh Simawang dan Malin Deman, cerita berlanjut ke adegan penjelasan diri Lareh Simawang serta penegasan ke-playboy-an nya. Oh iya, para perampok yang ceritanya sudah tewas dalam pertarungan, keluar dari panggung dengan berguling-guling kea rah kiri dan kanan panggung. Sementara mereka berguling dan keluar dari panggung, adegan tetap berjalan seperti biasa. Setelah adegan pengenalan diri, kemudian masuklah calon istri muda dari si Lareh Simawang. Sementara Lareh Simawang menyombongkan kehebatannya dalam menaklukkan wanita, dari atas panggung, turunlah property untuk settingan rumah gadang. Di belakang settingan itu muncullah si Siti Jamilan, istri pertama Lareh Simawang. Dengan dialog yang indah dan memukau, Siti Jamilan menegaskan bahwa akhir pengkhianatan nanti adalah kematian. Dan, long story short, setelah Lareh Simawang kedapatan tengah melangsungkan pernikahan keduanya, runtuhlah jiwa dan diri Siti Jamilan, dialog yang saya ingat, “Lelaki banyak berjanji, kemudian lupa untuk menepati, sementara wanita berjanji, tak akan pernah lupa menepati janji, kepada lelaki yang dicintai”. Pada awalnya, Siti Jamilan telah berjanji mati sebagai akhir pengkhianatan dan dia menepati. Adegan dimana Siti bunuh diri benar-benar menyentuh kalbu, mulai dari kata-kata terakhirnya, music yang mengangkat suasana, hingga permainan lighting serta efek multimedianya. Hingga pada akhirnya pisau tersebut benar-benar tertancap di perut buncit Siti yang hamil. Perasaan saya pun kemudian dicabik-cabik mendengar lolongan Lareh Simawang yang kehilangan istri beserta 3 anaknya sekaligus. Akting dari Andi Jagger sempat membuat saya meneteskan air mata. Karena rasa kehilangannya benar-benar tersampaikan ke audiens. Penutup cerita kedua, tari kematian, atau begitulah nama yang saya baca di beberapa wawancara Tom Ibnur tentang Padusi. Tari yang mencerminkan keadaan mistis, dibalut dengan suara dendang yang kata-katanya tajam seolah ikut menambahkan luka ke diri si Lareh Simawang. Perlu saya akui bahwa bagian dimana Siti Jamilan bunuh diri adalah bagian yang paling membekas di ingatan saya.
Akhir cerita kedua, masuk ke cerita terakhir, Sabai nan Aluih. Babak ini menceritakan tentang Sabai Nan Aluih yang kemudian dipaksa kawin oleh Rajo Nan Panjang. Di awal cerita, seperti biasa, pengenalan karakter. Mulai dari ibu Sabai nan Aluih, hingga Mangkutak, adiak Sabai yang penakut dan maunya main laying-layang mulu. Hingga muncullah ayah Sabai beserta Rajo nan Panjang yang ingin meminang Sabai. Ayah Sabai menolak, Rajo Nan Panjang menantang untuk menyelesaikan masalah secara jantan. Ayah Sabai menerima tantangan dengan harapan Rajo Nan Panjang benar-benar memenuhi janjinya untuk bertarung secara jantan. Namun, apa daya, Rajo nan Panjang terlalu culas untuk berbuat jujur, matilah ayah Sabai di tangan para pengawal Raja. Di saat tubuh ayah Sabai jatuh kaku ke tanah, saat itu pula perasaan tidak enak menghantui Sabai yang kemudian pergi menyusul ayahnya. Sementara Mangkutak? Dia main laying-layang. Kembali ke hutan, di saat tubuh kaku Ayah Sabai tengah diangkut oleh rombongan Raja Nan Panjang, saat itu datanglah Malin Deman dan Lareh Simawang yang tengah berkelana dalam perjalanan penyesalan mereka. Di saat mereka tengah bertarung dengan rombongan Rajo Nan Panjang, datanglah Sabai yang menuntut pembalasan. Namun, apa reaksi Rajo Nan Panjang? Dia balik menantang karena di matanya, wanita tak akan bisa menyakiti orang lain, apalagi membunuh. Ternyata Rajo Nan Panjang salah, Sabai bisa. Dan Rajo Nan Panjang jatuh tersungkur oleh tembakan dari Sabai. Seperti biasa, di akhir cerita ini, juga terlihat sosok Padusi yang mengamati dari jauh…
Selesai cerita ketiga, tinggallah Malin Deman serta Lareh Simawang di atas panggung bersama para penari akhir cerita ketiga. Kembali, Malin Deman dan Lareh Simawang mengungkapkan penyesalan dan kesedihan mereka masing-masing terkait wanita-wanita yang mereka cintai. Di saat itulah, Padusi kembali masuk ke panggung, dengan lampu sorot terfokus kepadanya. Posisinya sebagai juga penonton ketiga kisah kemudian disalurkannya melalu suatu dialog kesimpulan. Yang mana maknanya adalah, Padusi, perempuan itu lebih dari pada apa yang dipikirkan orang awam. Bersamaan dengan dialog terakhir, tiraipun menutup tanda akhir pertunjukan.
Terakhir, jika saya boleh berkomentar secara keseluruhan. Saya tidak rugi merogoh tabungan cukup dalam. Karena apa yang saya lihat, dengar dan resapi membayar itu semua. Tariannya indah, cantik dan terkadang mistis. Aktingnya jangan ditanya, mereka benar-benar menjadi tokoh-tokoh itu. Musiknya? Waduh, tak terdefinisikan lagi kehebatan Yaser Arafat dalam mengkomposer. Kostumnya? Benar-benar membawa ingatan saya kembali pulang ke kampong halaman. Efek multimedianya? Pas dan tidak berlebihan. Jika ada kritik, adalah pemaksaan keberadaan Malin Deman dan lareh Simawang pada setiap cerita meski cerita mereka telah berakhir. Menurut saya, itu sedikit dipaksakan. Adegan konklusi terakhirnya cakep, secakep pemeran Padusinya.. hehehehe.
Anyway, segitu reviewnya.. maaf kalau sotoy dan sok mantap. Namun namanya opini bukankah tiap orang itu merdeka beropini? Hehehehehe. Untuk Anda yang tengah bermimpi besar untuk mewujudkan hal yang setara dengan yang saya tonton. Percayalah, kita bisa, masalahnya, kita mau atau tidak? Jika Anda punya mimpi Anda sendiri untuk dua tahun lagi, lewat tulisan ini saya selipkan janji untuk membantu wujudkan mimpi itu, karena itu juga mimpi saya yang tak terwujudkan.
At last, I still have a living dream. Before the year of double twenty ends, I will organize one traditional art show, which is like Padusi or Matah Ati, and Randai as its theme. Remember, before the year of double twenty. A promise to myself and you are the witnesses.
Kalau bukan kita yang peduli budaya bangsa, siapa lagi? J
Kemanapun perjalanan mengarahkan langkah kaki,
Sebanyak apapun persinggahan yang kulalui,
Entah kenapa, terminal selalu mendapat tempat tersendiri di hati ini.
Ada sesuatu di balik hiruk pikuknya
Ada keindahan dalam suasananya yang mungkin terkesan semrawut
Tapi, entah kenapa, situasi seperti itu selalu membuat saya takjub dan rindu.
Saya bisa dikatakan besar di suatu kompleks terminal kecil
Namun, di saat itu, apa istimewanya sesuatu yang biasa kau lihat setiap hari?
Taka da kan? Sehingga tak pernah kusadari bahwa aku hidup dalam suatu keindahan yang tak terbilang
Di saat pertama perjalanan ini bermula, terminal kembali menjadi persimpangan pertama…
Lebak bulus namanya, besar dan jauh lebih ramai dan bising daripada terminal kecil tempat saya dibesarkan
Apa yang kulihat kala itu? Sama seperti anak manja yang baru keluar dari cangkang kenikmatan keluarga berkata
“idiih, apaan ni? Udah panas, bising, bau hueeekkk”
Tapi kawan, semakin waktu meninggalkan masa yang lalu
Semakin aku belajar bahwa, setiap terminal selalu special
Sadarkah kau bahwa terminal adalah suatu komunitas yang kompleksnya tiada tara, namun kesolidannya jangan ditanya?
Coba kau telusuri hingga di pojok-pojok terminal-terminal di negeri ini
Taka da penghuninya yang tak kenal penghuni lain,
Kau cari masalah dengan satu? Seribu yang akan menyerangmu…
Tak pula kutampik bahwa mereka semua adalah saingan bagi yang lain,
Namun itu semua hanya ada di saat ada pelancong yang singgah
DI saat pelancong itu tiada? Ah, tak kan kau temukan aura kompetisi di sana
Semua lebur di balik tawa, di dalam segelas kopi teman cengkrama
Dan sebatang rokok pelipur lara kehidupan.
Ah, terminal, dimana ratusan manusia menggantungkan hidup
Dimana jutaan manusia lainnya datang untuk kemudian kembali berjalan
Keindahan yang unik, suatu harmonisasi yang beda dengan yang lainnya…
Tiap langkah dan tarikan nafas mereka yang bergantung di sana memiliki arti
Indah, unik, sekaligus menyakitkan
Jika kuingat perjalananku, memang tak seberapa terminal yang kulalui
Aku besar di terminal kecil, matang di terminal besar di selatan Jakarta
Dan kini, kembali akan menyasar terminal demi terminal untuk perjalanan pencarian
Memang, terminal hanyalah persinggahan sementara
Persinggahan yang menampar, menurutku
Karena di persinggahan itu, kembali kita dihadapkan pada kenyataan kehidupan
Tetap berjalan dalam syukur,
Tahukah kalian? Perjalanan mimpi yang tengah kalian jalani
Berarti memikul mimpi mereka yang mengurusi persinggahan jutaan umat..
Kata siapa mereka tidak mau ikut bertualang?
Sebuah janji untuk travelling berdua.
Suatu hari, insya Allah..
Cieeeeee, wak ikuik mengaminkan bak
Mari kita nikmati, siang 3 hari lagi
ingin suatu saat bisa seperti ini :)
mimpi kawan, mari bermimpi